Example floating
Example floating
Pendidikan

SMKN 4 Palembang Soroti Pengaruh Alumni dalam Tawuran Pelajar: Jangan Biarkan Siswa Aktif Jadi Sasaran

4
×

SMKN 4 Palembang Soroti Pengaruh Alumni dalam Tawuran Pelajar: Jangan Biarkan Siswa Aktif Jadi Sasaran

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, buserpos9.com — Fenomena tawuran dan konvoi pelajar di Kota Palembang mendapat perhatian serius dari SMK Negeri 4 Palembang. Sekolah menilai persoalan kenakalan remaja tidak selalu muncul dari inisiatif siswa aktif, tetapi dapat dipengaruhi pihak luar, termasuk alumni yang masih berupaya mengajak atau memengaruhi adik-adik kelasnya.

Wakil Kepala SMKN 4 Palembang Bidang Humas, Bayu Prasetya, S.Pd.Gr., mengatakan hingga kini belum ada laporan yang menyebut siswa SMKN 4 Palembang terlibat sebagai pelaku maupun korban dalam aksi tawuran atau konvoi yang terjadi belakangan.

Namun, sekolah tetap mengambil langkah antisipasi karena melihat kondisi psikologis remaja yang masih mudah terprovokasi.

“Anak-anak usia SMA dan SMK itu masih sangat labil. Kalau mendapatkan provokasi atau ajakan dari lingkungan, mereka bisa saja ikut. Karena itu kami tidak hanya melihat siswa yang aktif di sekolah, tetapi juga pengaruh dari luar,” ujar Bayu.

Menurutnya, salah satu persoalan yang perlu mendapat perhatian adalah kemungkinan keterlibatan alumni dalam memengaruhi siswa yang masih aktif bersekolah.

Bayu menyebut terdapat alumni yang sebelumnya pernah bermasalah di sekolah dan telah dikenakan sanksi, namun masih berpotensi memengaruhi adik kelasnya dari luar lingkungan sekolah.

“Kadang ada anak yang sudah tidak bersekolah di sini karena bermasalah, tetapi masih ikut campur dan memengaruhi adik-adiknya. Ini seperti rantai yang harus diputus,” katanya.

Meski belum menerima laporan keterlibatan siswa, pihak sekolah menegaskan tidak akan menutup diri apabila nantinya aparat maupun masyarakat memiliki data terkait siswa SMKN 4 Palembang yang terlibat.

Sekolah siap membantu melakukan identifikasi terhadap siswa yang bersangkutan.

“Kalau memang ada nama siswa kami yang terindikasi terlibat, kami sangat terbuka. Silakan disampaikan kepada sekolah, kami akan membantu mencari dan mengidentifikasi anak tersebut,” tegas Bayu.

Menurutnya, keterbukaan tersebut penting agar sekolah dapat mengambil langkah pembinaan sejak dini.

Pihak sekolah tidak ingin informasi mengenai keterlibatan siswa hanya beredar di media sosial tanpa adanya klarifikasi dan penanganan bersama.

Bayu menegaskan bahwa apabila ditemukan siswa yang terlibat, langkah pertama yang akan dilakukan sekolah adalah pembinaan.

Sebab, menurutnya, siswa masih berada pada fase perkembangan dan tidak selalu memahami konsekuensi panjang dari tindakan yang dilakukan akibat ajakan teman atau pengaruh lingkungan.

“Kalau siswa memang terindikasi, tentu akan kami bina terlebih dahulu. Mereka masih anak-anak dan harus diberikan pemahaman. Tetapi kalau sudah berulang dan tidak bisa dibina, tentu ada konsekuensi sesuai tata tertib dan kesepakatan yang berlaku,” jelasnya.

SMKN 4 Palembang sebelumnya juga telah memiliki ikrar anti-tawuran bersama unsur kepolisian. Dalam kesepakatan tersebut, siswa yang terbukti terlibat tawuran maupun konvoi dapat dikenakan sanksi tegas.

Untuk mencegah siswa terlibat dalam aksi negatif, SMKN 4 Palembang telah meningkatkan koordinasi dengan TNI dan Polri.

Patroli dilakukan di sekitar sekolah dan sejumlah lokasi yang biasa menjadi tempat siswa berkumpul. Pengamanan juga diperkuat menjelang dan saat momentum 17 Agustus.

Sekolah berkoordinasi dengan Babinsa, Bhabinkamtibmas, Polsek Kemuning, Polrestabes Palembang hingga Polda Sumatera Selatan.

“Jauh sebelum 17 Agustus kami sudah melakukan imbauan. Saat 17 Agustus juga dilakukan penjagaan dan patroli. Kami bersama aparat berkeliling ke tempat-tempat yang biasanya menjadi lokasi anak-anak nongkrong,” katanya.

Langkah preventif juga dilakukan dengan mempercepat kepulangan siswa dan meniadakan sementara kegiatan ekstrakurikuler ketika situasi dianggap rawan.

Bayu menilai persoalan tawuran pelajar tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengandalkan sekolah dan aparat.

Pengawasan orang tua serta kepedulian masyarakat dinilai memiliki peran penting untuk mencegah siswa terjerumus dalam pergaulan negatif.

“Harapan kami seluruh warga ikut mencegah. Bukan hanya pendidik, tetapi orang tua, masyarakat, aparat dan semua pihak. Kalau melihat anak-anak berkumpul atau ada ajakan yang mengarah ke tawuran, harus segera dicegah dan diarahkan,” ujarnya.

Ia berharap kolaborasi antara sekolah, keluarga, masyarakat dan aparat dapat memutus mata rantai provokasi yang membuat pelajar terlibat dalam aksi tawuran.

“Jangan sampai siswa yang masih aktif justru menjadi sasaran atau alat untuk kepentingan pihak lain. Anak-anak harus kita lindungi bersama,” pungkasnya.

Example 120x600