PALEMBANG, buserpos9.com — SMK Negeri 2 Palembang menegaskan tidak akan mengambil langkah balasan menyusul peristiwa penyerangan terhadap sejumlah siswanya yang diduga dilakukan oleh pelajar dari sekolah lain.
Pihak sekolah justru meminta seluruh siswa menahan diri dan menyerahkan sepenuhnya proses penanganan perkara kepada aparat kepolisian. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah persoalan berkembang menjadi konflik antarpelajar yang lebih luas.
Kepala SMKN 2 Palembang, H. Suparman, S.Pd., M.Si., mengatakan pihak sekolah telah berkoordinasi dengan Polrestabes Palembang dan Polda Sumatera Selatan terkait kasus tersebut.
“Kami sudah berkoordinasi dengan Polrestabes Palembang dan Polda Sumsel. Kemarin pihak Polrestabes dan Polda Sumsel juga datang ke SMKN 2 Palembang,” ujar Suparman.
Menurutnya, siswa SMKN 2 Palembang yang menjadi korban tidak mengetahui persoalan yang melatarbelakangi aksi penyerangan tersebut. Ia juga memastikan tidak ada konflik sebelumnya antara siswa SMKN 2 Palembang dengan sekolah lain.
“Anak-anak kami yang diserang ini tidak tahu apa-apa. Kami tidak ada masalah. Jadi kami berharap persoalan ini bisa diluruskan dan tidak berkembang menjadi informasi yang tidak benar,” katanya.
Suparman secara tegas membantah informasi yang menyebutkan siswa SMKN 2 Palembang tengah mempersiapkan aksi balasan.
Ia meminta para siswa tidak mudah terpancing oleh informasi yang beredar, terutama kabar yang tidak dapat dipastikan kebenarannya.
“Hoaks yang beredar bahwa siswa SMKN 2 Palembang akan melakukan balas dendam, itu tidak ada. Anak-anak kami cinta damai dan kami ingin kondisi di sekolah tetap aman serta kondusif,” tegasnya.
Pihak sekolah, kata Suparman, memilih mengedepankan jalur hukum. Laporan terkait penyerangan juga telah dibuat oleh pihak korban ke Polrestabes Palembang.
Sementara itu, sejumlah anak yang diduga terlibat dalam aksi penyerangan telah dipanggil untuk menjalani pemeriksaan.
“Kami sudah mempunyai data dan kami ingin memastikan persoalan ini ditangani dengan baik. Anak-anak kami yang menjadi korban sudah melapor ke Polrestabes Palembang. Kami tinggal menunggu tindakan tegas dari kepolisian terhadap para pelaku,” ujarnya.
Ia berharap proses hukum dapat berjalan sesuai ketentuan yang berlaku. Menurutnya, tindakan tegas terhadap pelaku diperlukan bukan untuk membalas, melainkan sebagai upaya memberikan efek pencegahan agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Kami berharap pelaku penyerangan terhadap siswa kami dicatat dan ditindak sesuai aturan, sehingga kejadian seperti ini tidak terjadi lagi,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, SMKN 2 Palembang juga memperkuat pengamanan di lingkungan sekolah. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proses pembelajaran tetap berjalan dan siswa merasa aman saat berada di sekolah.
Pengamanan tersebut turut mendapat dukungan dari aparat kepolisian. Bahkan, dalam pelaksanaan upacara peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, personel Polda Sumsel dan Polrestabes Palembang turut hadir di lingkungan sekolah.
Suparman menegaskan, peristiwa penyerangan tersebut terjadi di luar lingkungan sekolah. Karena itu, pihaknya juga mengingatkan siswa agar setelah kegiatan belajar selesai segera pulang ke rumah dan menghindari aktivitas yang berpotensi memicu konflik.
“Kalau sudah pulang sekolah, ya pulanglah ke rumah. Kami ingin anak-anak kami aman. SMKN 2 Palembang itu rukun dan damai di dalam sekolah,” ujarnya.
Ia juga meminta para orang tua tidak khawatir secara berlebihan. Menurutnya, sekolah terus melakukan pengawasan dan memberikan pemahaman kepada siswa agar tidak terpancing provokasi.
Di sisi lain, Suparman menegaskan SMKN 2 Palembang memiliki aturan yang ketat terhadap siswa yang membawa senjata tajam maupun terlibat dalam aksi tawuran.
Menurutnya, sekolah tidak akan memberikan toleransi terhadap tindakan yang dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.
“Kalau ada anak SMKN 2 yang membawa senjata tajam dan terlibat tawuran, kami sudah berkomitmen untuk mengembalikannya kepada orang tua,” jelasnya.
Komitmen tersebut, lanjut Suparman, juga telah dibicarakan bersama Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK swasta. Sekolah-sekolah sepakat mengambil langkah tegas terhadap siswa yang terbukti terlibat dalam tawuran.
“Kami sudah sepakat dengan MKKS SMK swasta. Kalau ada siswa yang terlibat tawuran, akan dikembalikan kepada orang tua dan tidak diberikan rekomendasi SKCK,” katanya.
Menurut Suparman, ketegasan tersebut merupakan bagian dari upaya sekolah membangun kedisiplinan sekaligus menjaga masa depan peserta didik.
Suparman mengingatkan bahwa para siswa memiliki kesempatan besar untuk meraih prestasi dan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Karena itu, ia tidak ingin masa depan mereka terganggu hanya karena terlibat tawuran atau kekerasan antarpelajar.
Ia menyebut SMKN 2 Palembang memiliki banyak siswa berprestasi, termasuk yang telah menorehkan prestasi di tingkat nasional.
Bahkan, lebih dari 200 siswa SMKN 2
Palembang disebut mendapatkan kesempatan melalui jalur undangan ke Universitas Sriwijaya (Unsri) dan Politeknik Negeri Sriwijaya (Polsri).
“Anak-anak kami sedang mengejar prestasi. Mereka punya masa depan. Jangan sampai masa depan mereka rusak karena tawuran atau aksi kekerasan,” ujarnya.
Karena itu, ia kembali mengajak seluruh pihak untuk tidak memperkeruh situasi. Menurutnya, penyelesaian melalui jalur hukum merupakan pilihan terbaik dibandingkan membiarkan persoalan berkembang menjadi aksi saling balas.
Suparman juga menegaskan bahwa sekolah tidak ingin membangun permusuhan dengan pihak mana pun. Fokus sekolah saat ini adalah memastikan para siswa tetap aman, proses belajar berjalan normal, serta kasus penyerangan dapat ditangani secara profesional oleh aparat penegak hukum.
“Semua anak adalah anak bangsa. Jangan ada balas dendam. Kami dari SMKN 2 Palembang tidak ada balas dendam. Kami serahkan persoalan ini kepada kepolisian dan berharap pelaku ditindak tegas sesuai aturan,” pungkasnya.



















