PALEMBANG — Kondisi kabut asap yang mulai mengganggu aktivitas di Sumatera Selatan (Sumsel) mendapat perhatian serius dari Dinas Pendidikan. Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, Hj. Mondyaboni, menegaskan bahwa pihak dinas telah menerbitkan edaran kepada sekolah-sekolah untuk mengantisipasi dampak kabut asap terhadap kegiatan belajar mengajar.
Kebijakan mengenai penerapan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) diserahkan sepenuhnya kepada kebijakan daerah masing-masing dengan tetap memantau kategori indeks kualitas udara harian.
Kebijakan Fleksibel Sesuai Kondisi Daerah
Menurut Hj. Mondyaboni, sekolah diimbau untuk menyesuaikan diri dengan situasi di wilayahnya, apakah menerapkan tatap muka terbatas atau beralih ke PJJ.
“Kami sudah mengeluarkan edaran dua kali ke sekolah mengenai antisipasi kabut asap. Kami berharap sekolah menyesuaikan dengan keadaan di daerah masing-masing, apakah dengan tatap muka terbatas atau PJJ. Daerah yang sudah menerapkan PJJ sejauh ini antara lain Kota Palembang, Banyuasin, dan beberapa daerah lain yang terdampak cukup pekat,” jelas Mondyaboni.
Selain fokus pada penanganan kabut asap, Dinas Pendidikan Sumsel juga tengah bersiap menyambut program pertukaran guru internasional. Pekan depan, perwakilan program Bridge dan Kedutaan Besar Australia dijadwalkan datang ke Sumsel untuk memberikan pelatihan program DRITS bagi guru-guru dari delapan sekolah terpilih, mulai dari tingkat SD, SMP, SMA, hingga pondok pesantren. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kompetensi, kualitas, serta membuka ruang pertukaran budaya dan informasi pendidikan antara Australia dan Indonesia.
Suara Siswa Kelas 12: Dilema Antara Tatap Muka dan Kesehatan
Di sisi lain, kabut asap yang telah berlangsung selama lebih dari sebulan ini memunculkan dilema tersendiri bagi para siswa, khususnya kelas 12 yang tengah bersiap menghadapi berbagai ujian akhir dan seleksi masuk perguruan tinggi seperti SNBP dan SNBT.
Desky Aditya Pratama, siswa kelas 12 SMAN 13 Palembang, mengungkapkan bahwa dirinya dan sebagian besar teman-teman seangkatannya lebih memilih pembelajaran tatap muka karena materi pelajaran dinilai lebih mudah dipahami secara langsung.
“Menurut saya pembelajaran tatap muka itu lebih enak daripada PJJ, karena materi dari guru lebih masuk dan kami harus menghadapi persiapan kelas 12 seperti TKA, SNBP, dan SNBT. Namun, kami juga mengerti ada teman-teman yang memiliki riwayat penyakit bawaan atau gangguan pernapasan sehingga membutuhkan PJJ. Harapan kami ada kebijakan yang bijak dari pemerintah, seperti penyesuaian jam masuk sekolah saat pagi hari ketika kabut masih tebal,” ungkap Desky.
Senada dengan Desky, Agrivina Helga Pradila, sesama siswa kelas 12, juga berharap kegiatan belajar dapat dilakukan secara tatap muka dengan kondisi yang kondusif. Kendati demikian, kesehatan siswa tetap menjadi prioritas utama.
“Kami sangat ingin tatap muka karena pelajaran sangat penting untuk persiapan masa depan kami. Cuman kalau situasinya tidak memungkinkan dan semakin parah, daripada kesehatan menurun, dialihkan ke PJJ menurut kami tidak masalah. Harapan besar kami, semoga ada solusi nyata dari pemerintah untuk mengatasi karhutla agar asap ini bisa segera hilang,” tutup Agrivina. (Fir)


















