Example floating
Example floating
Uncategorized

SMKN 4 Palembang Dorong Sholat Istisqo Berjamaah, Kepala Sekolah Paparkan Fenomena Kemarau dari Sudut Pandang Geografis dan Agama

4
×

SMKN 4 Palembang Dorong Sholat Istisqo Berjamaah, Kepala Sekolah Paparkan Fenomena Kemarau dari Sudut Pandang Geografis dan Agama

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG — Kepala SMK Negeri 4 Palembang, Sumin Eksan, S.Pd., M.M., memberikan pandangan mendalam mengenai fenomena musim kemarau yang tengah melanda. Dalam penjelasannya, beliau membedah isu perubahan iklim dan cuaca ekstrem ini melalui dua pendekatan yang saling melengkapi, yakni dari segi ilmiah geografis dan nilai-nilai religius.

Menurut Sumin, pemahaman yang komprehensif mengenai kemarau panjang harus dilihat dari dua sisi agar masyarakat tidak hanya memahami proses terjadinya secara ilmiah, tetapi juga dapat mengambil hikmah secara spiritual.

1. Tinjauan dari Segi Geografis (Ilmu Bumi)

Secara ilmiah, fenomena kemarau dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yang saling berkaitan:

  • Posisi Geografis dan Angin Monsun: Wilayah Sumatera, termasuk Sumatera Selatan dan Bengkulu di pesisir barat, saat ini dipengaruhi oleh pergerakan angin Monsun Australia. Angin yang berasal dari daratan Australia tersebut bersifat kering dan membawa sedikit uap air, sehingga curah hujan berkurang drastis.
  • Dampak Fenomena El Nino: Pemanasan suhu muka air laut di Samudera Pasifik (El Nino) menarik massa awan hujan menjauh dari wilayah Indonesia ke tengah Samudera Pasifik. Hal inilah yang kerap memicu musim kemarau panjang hingga berbulan-bulan.
  • Alih Fungsi Lahan dan Deforestasi: Berkurangnya kawasan hijau dan hutan di Sumatera berdampak langsung pada siklus hidrologi. Tanpa tegakan pohon yang berfungsi menyimpan cadangan air tanah dan memicu penguapan lokal, air hujan langsung mengalir ke laut tanpa meresap secara optimal.
  • Pemanasan Global: Peningkatan suhu rata-rata global turut memicu anomali cuaca ekstrem, membuat pola musim menjadi tidak menentu—antara kemarau panjang yang ekstrem atau curah hujan lebat dalam waktu singkat yang berpotensi banjir.

“Geografi menjelaskan secara objektif bagaimana proses mekanisme alam ini terjadi di bumi kita,” ujar Sumin.

2. Tinjauan dari Segi Agama (Islam)

Dari sudut pandang keimanan, alam semesta dan segala perubahannya berada di dalam kendali kekuasaan Allah SWT. Sumin mengingatkan agar umat Islam senantiasa merefleksikan diri melalui peristiwa alam ini:

  • Ujian dan Peringatan: Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Baqarah ayat 155, bahwa manusia pasti akan diuji dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Kemarau menjadi salah satu bentuk ujian sekaligus pengingat bagi hamba-Nya.
  • Muhasabah atas Perilaku Manusia: Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Majah, diingatkan bahwa kelalaian dalam menunaikan zakat dan hak-hak sesama dapat menjadi sebab tertahannya berkah hujan dari langit. Hal ini diperkuat oleh QS. Ar-Rum ayat 41, yang menegaskan bahwa kerusakan di darat dan di laut timbul akibat perbuatan tangan manusia sendiri, agar mereka kembali ke jalan yang benar.
  • Momentum Memperbanyak Istighfar: Kemarau panjang adalah saat yang tepat untuk memperbanyak pertaubatan, memohon ampun (istighfar), serta melaksanakan sholat minta hujan (Istisqa) sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

“Jika ilmu bumi menjelaskan bagaimana prosesnya, maka agama menjelaskan kenapa peristiwa itu diizinkan terjadi dan apa hikmah di baliknya,” tambahnya.

Para ulama, lanjut Sumin, juga sepakat bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari amal ibadah. Apabila ekosistem hutan dijaga dengan baik, kewajiban sosial seperti zakat ditunaikan, dan amalan istighfar diperbanyak,, insya Allah keberkahan dan curah hujan yang bermanfaat akan diturunkan kembali oleh Allah SWT.

Seruan Bersama Melaksanakan Sholat Istisqo

Menutup pandangannya, Sumin Eksan menyampaikan imbauan terbuka kepada para pemangku kebijakan dan pimpinan lembaga pendidikan di daerah. Ia berharap para pejabat dan pimpinan umat dapat mengambil langkah nyata bersama-sama.

“Diharapkan kepada Bapak Gubernur, para bupati dan wali kota, kepala dinas terkait, para kepala sekolah, hingga pimpinan pondok pesantren untuk bersama-sama menggerakkan dan memerintahkan jajarannya agar melaksanakan sholat Istisqo. Kita tidak pernah tahu, dari doa siapa di antara kita yang tulus ikhlas, hajat ini dikabulkan oleh Allah SWT,” ujar Sumin serunya menutup perbincangan sebelum berlalu untuk melanjutkan aktivitas kedinasan. (Fir/Red)

Example 120x600