Example floating
Example floating
Uncategorized

REI Sumsel Targetkan 20 Ribu Unit Rumah di 2026, Soroti Dampak Pinjol dan Strategi “Gentengisasi”

10
×

REI Sumsel Targetkan 20 Ribu Unit Rumah di 2026, Soroti Dampak Pinjol dan Strategi “Gentengisasi”

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG – Dewan Pengurus Daerah Realestat Indonesia (DPD REI) Sumatera Selatan menyatakan kesiapannya untuk memberikan kontribusi signifikan dalam menyukseskan Program 3 Juta Rumah Nasional pada tahun 2026. Dengan target realisasi lebih dari 20.000 unit, REI Sumsel optimis dapat memenuhi kebutuhan hunian masyarakat meski dihadapkan pada tantangan pembiayaan yang dinamis.

Ketua DPD REI Sumsel, Zewwy Salim, menyebutkan bahwa kebutuhan rumah skala nasional untuk wilayah Sumatera Selatan mencapai sekitar 350 ribu unit per tahun. Tahun ini, peluang pasar terbuka lebar seiring dengan ketiadaan pembatasan kuota khusus bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Namun, Zewwy menggarisbawahi bahwa akses perbankan dan rekam jejak keuangan calon debitur masih menjadi faktor penentu utama.

“Untuk MBR, verifikasi SLIK OJK tetap jadi filter utama. Di lapangan, banyak calon debitur terjebak pinjaman online (pinjol) dan kredit macet, sehingga profil risikonya tinggi dan berujung penolakan bank,” ujar Zewwy, Rabu (5/2/2026).

Kondisi tersebut berdampak langsung pada kehati-hatian perbankan. Rasio kredit bermasalah dari segmen berisiko menambah beban bank, memicu pengetatan analisis kredit, dan memperpanjang waktu realisasi KPR. Meski tantangan administrasi dan kebijakan mandatori SLIK OJK cukup ketat, REI Sumsel mengklaim tetap memfasilitasi MBR secara agresif guna memastikan target serapan tercapai.

Komposisi Target dan Inovasi Konstruksi

Pada tahun 2026, REI Sumsel mematok target realisasi sebanyak 20.000 unit lebih. Komposisi tersebut terdiri dari 17.000 unit untuk segmen MBR, 2.000 unit segmen menengah, serta 1.000 unit untuk segmen menengah-atas hingga mewah.

Sejauh ini, REI Sumsel berada di jajaran dua besar nasional dalam performa pengembangan perumahan. Selain isu pembiayaan, REI Sumsel juga menyoroti aspek konstruksi “gentengisasi” yang perlu kontekstual. Zewwy menegaskan pemilihan material atap harus menyesuaikan kondisi wilayah.

“Daerah rawan gempa sebaiknya menghindari genteng berat; seng atau metal lebih aman dari sisi beban struktur. Namun secara termal dan kenyamanan, genteng lebih unggul dibanding seng,” tambahnya. Untuk wilayah Palembang dan sekitarnya, penggunaan atap metal memang masih dominan. REI mendorong skema gentengisasi yang realistis: tetap sesuai anggaran pemerintah dan mempertimbangkan harga jual agar tidak mengerek harga di luar daya beli MBR.

Kolaborasi Perbankan dan Mitigasi Risiko

Senada dengan hal tersebut, BM Bank Tabungan Negara (BTN) Palembang, Peggy Pallasthena, mengakui bahwa fenomena pinjol masih membayangi kualitas calon debitur. Namun, sinergi antara bank dan pengembang terbukti mampu menjaga ritme penjualan KPR di Palembang.

“Seleksi tetap ketat, tapi alhamdulillah realisasi berjalan karena marketing semakin paham menyiapkan dokumen dan developer aktif membantu mitigasi risiko dari sisi proyek,” jelas Peggy.

Sebagai langkah strategis ke depan, REI Sumsel mendorong tiga langkah perbaikan cepat:

  1. Edukasi finansial bagi MBR agar menghindari pinjol.

  2. Pendampingan administratif pra-pengajuan KPR.

  3. Penyesuaian desain dan material bangunan berbasis risiko wilayah.

Melalui langkah intervensi ini, REI Sumsel berharap bottleneck pembiayaan dapat teratasi sehingga target hunian layak bagi masyarakat Sumatera Selatan di tahun 2026 dapat terealisasi secara maksimal. (Firdaus)

Example 120x600