Example floating
Example floating
Uncategorized

LSM LPKPI Endus Dugaan Manipulasi Identitas: Nama Fiktif Muncul di Karangan Bunga Kejari Banyuasin

6
×

LSM LPKPI Endus Dugaan Manipulasi Identitas: Nama Fiktif Muncul di Karangan Bunga Kejari Banyuasin

Sebarkan artikel ini

PALEMBANG, 2 Maret 2026 – Lembaga Pemantau Kinerja Pemerintah Indonesia (LPKPI) mengendus adanya dugaan manipulasi identitas dan praktik “cuci tangan” di lingkungan pendidikan Banyuasin. Hal ini mencuat pasca ditemukannya karangan bunga misterius di kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Banyuasin yang mengatasnamakan SMPN 4 Talang Kelapa, namun menggunakan nama individu yang tidak terdaftar secara resmi.

Papan bunga yang dimaksud mencantumkan nama Merlyn Arianza, S.Pd. sebagai representasi sekolah, padahal secara administratif SMPN 4 Talang Kelapa dipimpin oleh Fauziah, S.Pd., M.Si. Temuan ini memicu tanda tanya besar mengenai motif di balik penggunaan nama yang tidak dikenal dalam struktur birokrasi sekolah tersebut.

Fakta Data Dapodik: Nama ‘Merlyn’ Tidak Ditemukan

Berdasarkan hasil verifikasi mendalam pada data Tenaga Pendidik dan Kependidikan (Dapodik), nama Merlyn Arianza, S.Pd. sama sekali tidak terdata sebagai guru maupun staf di SMPN 4 Talang Kelapa. Ketidaksinkronan data ini memperkuat dugaan adanya penggunaan identitas fiktif atau “sosok siluman” dalam aksi apresiasi massal kepada aparat penegak hukum tersebut.

Pernyataan Tegas LSM LPKPI

Aktivis LSM LPKPI, Musfiran, menyatakan bahwa munculnya nama asing ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan indikasi adanya ketakutan sistematis dari pihak sekolah untuk muncul secara terang-benderang.

“Ini sangat janggal. Jika niatnya tulus memberikan apresiasi sebagai institusi, mengapa harus mencantumkan nama yang tidak ada di dalam radar Dapodik? Kami menduga ini adalah strategi ‘cuci tangan’ agar nama asli pimpinan sekolah tidak terseret jika di kemudian hari muncul audit terkait sumber dana pengadaan papan bunga tersebut,” ungkap Musfiran.

Beliau juga menambahkan sebuah kritik tajam terhadap moralitas di lingkungan sekolah. “Sangat ironis, nama siluman digunakan untuk merayakan penangkapan oknum pemeras (LSM), sementara di internal sekolah diduga masih terjadi praktik manipulasi yang dianggap lumrah. Menangkap pemeras adalah prestasi, tapi membiarkan manipulasi di dalam institusi pendidikan adalah sebuah pengkhianatan terhadap publik,” tegasnya.

Desakan Transparansi kepada Dinas Pendidikan

Atas temuan ini, LSM LPKPI secara resmi mendesak:

  1. Kepala Dinas Pendidikan Banyuasin untuk segera memanggil Kepala SMPN 4 Talang Kelapa guna memberikan klarifikasi mengenai identitas ‘Merlyn Arianza’.

  2. Inspektorat Kabupaten Banyuasin untuk menelusuri asal-usul pendanaan puluhan papan bunga yang membanjiri Kejari Banyuasin, guna memastikan tidak ada penyalahgunaan dana pendidikan (seperti dana BOS atau iuran liar).

Masyarakat kini menunggu jawaban transparan dari pihak berwenang. Jangan sampai aksi kirim bunga yang terlihat sebagai dukungan moral, nyatanya hanyalah tabir asap untuk menutupi penyimpangan yang lebih besar di balik tembok sekolah. (Firdaus)

Example 120x600