Example floating
Example floating
Uncategorized

Komisi VII Tinjau UMKM Palembang, DPR Dorong Penyaluran KUR Tanpa Jaminan hingga Daerah

43
×

Komisi VII Tinjau UMKM Palembang, DPR Dorong Penyaluran KUR Tanpa Jaminan hingga Daerah

Sebarkan artikel ini

Palembang — Pimpinan dan Anggota Komisi VII DPR RI melakukan kunjungan spesifik ke Griya Kain Tuan Kentang, Selasa (2/12/2025), guna melihat langsung perkembangan UMKM serta keberlanjutan kerajinan tradisional di Kota Palembang.

 

Dalam kunjungan tersebut, Anggota Komisi VII DPR RI Rycko Menoza Sjachroedin Zainal menekankan perlunya penguatan kebijakan pemerintah pusat melalui Himbara terkait penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) agar benar-benar tepat sasaran.

 

“UMKM perlu didorong melalui kebijakan pusat. Penyaluran KUR harus dimonitor. Selama ini KUR 100 juta tanpa jaminan, namun di lapangan masih ada pelaku UMKM yang diminta jaminan,” tegas Rycko.

 

Ia menambahkan bahwa aturan Kementerian telah menetapkan KUR hingga 100 juta tanpa agunan. Meski demikian, penyimpangan teknis masih ditemukan. Karena itu, Komisi VII meminta agar informasi KUR disosialisasikan hingga ke pelosok daerah.

 

“Jangan hanya berjalan di pusat kota. Di beberapa daerah hanya BRI yang dimainkan, padahal ada Mandiri dan BTN. Informasi KUR harus sampai ke masyarakat daerah,” ujarnya.

 

Rycko juga menilai program UMKM Pemerintah Kota Palembang telah berada pada arah pengembangan yang baik, terlebih jika mampu dikolaborasikan dengan sektor pariwisata.

 

“Harapan kita pasar UMKM semakin terbuka. Palembang memiliki bandara internasional, potensi sungai, dan sejarah Sriwijaya. DNA UMKM Palembang harus terus dikembangkan,” jelasnya.

 

Regenerasi Pengrajin Songket Jadi Sorotan

 

Ketua Rombongan Komisi VII DPR RI, Evita Nursanty, turut menyampaikan apresiasi atas keberadaan Griya Kain Tuan Kentang sebagai pusat kerajinan songket dan jumputan yang telah berdiri sejak 1980-an.

 

“Ini ide baik Pemkot Palembang untuk memberi wadah bagi para pengrajin. Tradisi menenun adalah kekayaan budaya yang wajib dijaga,” kata Evita.

 

Namun, Evita menyoroti tantangan serius terkait minimnya minat generasi muda menjadi penenun.

 

“Minat anak muda makin berkurang. Ini PR bersama. Kami akan mendorong pelatihan, pendampingan, dan program untuk menarik minat generasi muda,” ucapnya.

 

Evita juga meminta agar pemerintah pusat memperbanyak dukungan promosi dan pameran.

 

“Produk tenun harus dilihat langsung. Pameran offline harus diperbanyak. Jika biaya booth mahal, perlu diberikan kemudahan bagi para pengrajin,” tambahnya.

Pemkot Palembang Fokus Pembenahan Permodalan dan Pemasaran

 

Wali Kota Palembang, Ratu Dewa, memberikan apresiasi atas perhatian Komisi VII terhadap pengembangan UMKM lokal.

 

“Permodalan dan pemasaran menjadi fokus pembenahan kami. Kami memastikan program UMKM semakin tepat sasaran,” kata Ratu Dewa.

 

Pengrajin Bentuk Koperasi Bina Wasta Berdaya untuk Percepat Produksi

 

Ketua Usaha Bersama Griya Kain Tuan Kentang, Sofyan Candra, menyambut baik kedatangan Komisi VII yang dinilai memberikan semangat baru bagi para pengrajin.

 

“Kami senang dengan kehadiran mereka. Ini membawa energi baru bagi para pengrajin,” ujarnya.

 

Sofyan menjelaskan bahwa produksi tenun Palembang saat ini menghadapi tantangan besar, terutama karena minimnya SDM. Untuk itu, para pengrajin sepakat membentuk koperasi Bina Wasta Berdaya untuk menjamin ketersediaan bahan baku, suku cadang, dan benang yang telah dipintal sehingga proses produksi bisa lebih cepat.

 

“Semua kebutuhan disediakan di koperasi, pengrajin tinggal menenun. Ini tuntutan zaman, tidak bisa pakai metode lama yang lambat,” jelasnya.

 

Menurut Sofyan, KUR sangat dinanti, terlebih dengan kebijakan Menteri Keuangan bahwa pinjaman di bawah 100 juta tidak memerlukan agunan.

 

“Kebijakan ini sangat membantu UMKM seperti kami. Akses modal adalah kunci,” katanya.

 

Koperasi tersebut juga akan mengumpulkan pengrajin berkemampuan khusus yang nantinya bertugas melakukan regenerasi dengan formula baru yang lebih relevan untuk era Gen Z.

 

“Anak muda sekarang ingin pekerjaan yang cepat, singkat, mudah, dan menghasilkan. Koperasi akan mencari formula itu,” tambah Sofyan.

 

Ia menilai bahwa proses pengenalan budaya menenun yang selama ini hanya berupa sosialisasi belum cukup. Karena itu, ia mendorong agar kegiatan menenun dimasukkan ke dalam ekstrakurikuler sekolah untuk menumbuhkan minat siswa.

 

Harapan Pengembangan UMKM ke Depan

Dari hasil kunjungan dan diskusi dengan para pengrajin, sejumlah poin penting menjadi harapan pengembangan UMKM Palembang ke depan:

 

  • Penyaluran KUR tepat sasaran dan tanpa jaminan sesuai ketentuan.
  • Informasi KUR merata hingga pelosok daerah.
  • Sinergi UMKM dan pariwisata untuk memperluas pasar.
  • Peningkatan promosi dan pameran produk lokal.
  • Program regenerasi pengrajin untuk menarik minat generasi muda.
  • Penguatan sentra kain sebagai destinasi budaya Palembang.

 

Kunjungan Komisi VII DPR RI ini diharapkan dapat memperkuat keberlanjutan industri kreatif dan UMKM Palembang, serta menjaga warisan budaya songket agar terus hidup di tengah masyarakat. (Firdaus)

Example 120x600